Ustman Bin Affan Pedagang Kaya Dermawan

Monday, October 7th 2013. | Khulafaur Rasyidin, Sejarah

Ustman-Bin-Affan-Pedagang-Kaya-Yang-DermawanUsman bin Affan r.a. lahir di Thaif dekat Mekah, ia hidup dijaman Rasulullah Muhammad, dan setelah Rasulullah wafat kepemimpinan dilanjutkan oleh Abu Bakar, Umar bin Khatab dan juga dia sendiri Usman bin Affan. Kedermawanan Usman sudah tampak sebelum ia jadi khalifah.

Sebelum masuk Islam-pun Ustman tidak pernah berbuat dosa, tidak menyembah patung sebagaimana umunnya orang saat itu. Hal tersebut yang membuat Usman cepat menerima petunjuk Allah untuk masuk kedalam Islam. Usman termasuk orang yang  diberitakan Rasulullah SAW mendapat jaminan untuk masuk syurga.

Usman bin Affan oleh rasulullah diberi gelar Dzun Nurain (orang yang memiliki dua cahaya) karena Usman bin Affan telah menikahi dua putri Rasulullah SAW.  Istri Usman bin Affan yang pertama adalah Ruqayyah, kemudian ia meninggal, dan Usman bin Affan kawin lagi dengan putri Rasulullah yang bernama Ummu Kaltsum.
Kelebihan dari sahabat Rasulullah yang bernama Usman bin Affan ini adalah sifat pemalunya.  Rasulullah SAW pernah menyatakan, “Orang yang paling kasih sayang dari umatku ialah Abu Bakar, dan yang paling teguh dalam memelihara ajaran Allah ialah Umar, dan yang paling bersifat pemalu ialah Usman.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah, Al-Hakim dan Tirmidzi).
Pada Perang Tabuk di Romawi arah Palestina yang dikenal dengan yaumul Usrah (hari yang sulit). Rasulullah menganjurkan kaum muslimin untuk berinfak untuk biaya perang tersebut. Saat itu Abu Bakar memberikan 100 % hartanya, Umar 50% hartanya.
Adapun Usman memberikan : bekal untuk sepertiga pasukan Islam, 950 unta, 50 kuda dan 1.000 dinar.  Kalau dirupiahkan tahun 2013  sekitar 62,08 milya.  Harta Abubakar 100% dan Umar 50% belum jauh lebih kecil bila dinding harta yang di Infaq-kan Umar. Maka Rasulullah SAW mengucapkan, “Tidak akan ada sesuatu yang dapat membahayakan Usman setelah hari ini dengan apa yang dia lakukan hari ini.  Ya.! Allah, ridhailah Usman, sesungguhnya aku ridha kepadanya.”
Sumur Yang dibeli Usman
Ketika kaum Muslimin hijrah dari Mekah ke Madinah, mereka kesulitan air, dimana di Madinah ada sebuah sumur, tapi sumur itu milik seorang Yahudi dan sengaja airnya diperdagangkan.  Hijrahnya kaun Muslimin ke Madinah amat menggembirakan bagi orang Yahudi tersebut karena ia dapat menjual air-nya kepada kaum muslimin.
Oleh karena itu Rasulullah SAW mengharapkan ada seorang sahabat yang membeli sumur itu untuk meringankan beban kaum muslimin yang telah menderita karena harta benda mereka ditinggalkan di kota Mekah.  Usman bin Affan bergegas menemui orang Yahudi tersebut untuk membeli separuh sumur tersebut.  Disepakatilah harga separuh sumur itu 12.000 Dirham (sekitar 5 juta Rupiah tahun 2013) dengan perjanjian satu hari menjadi hak orang Yahudi itu, dan keesokan harinya adalah hak Usman bin Affan atas sumur tersebut.
Pada giliran hak pakai Usman bin Affan, kaum Muslimin bergegas mengambil air yang cukup untuk kebutuhan dua hari secara gratis. Dengan demikian si Yahudi merasa rugi, karena pada giliran hak pakai dirinya terhadap sumur itu tidak ada lagi kaum Muslimin yang memebeli air padanya.  Orang Yahudi tersebut mengeluh kepada Usman, dan akhirnya menjual separuhnya kepada Usman dengan harga 8.000 Dirham.
Masa Paceklik Khalifah Abu Bakar
Bentuk kedermawanan lain Usman bin Affan, pada masa pemerintahan Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a, kaum Muslimin dilanda paceklik yang dahsyat.  Mereka mendatangi khalifah Abu Bakar seraya berkata, “Wahai.. khalifah Abu Bakar..! Langit tidak menurunkan hujan dan bumi kering tidak menumbuhkan tanaman, dan orang-orang meramalkan bakal terjadi bencana besar, maka apa yang harus kita lakukan?”
Abu Bakar menjawab, “Pergilah dan bersabarlah… Aku berharap sebelum tiba malam hari Allah akan meringankan kesulitan kalian.”
Pada sore harinya ada serombongan kafilah dari Syam yang terdiri dari seribu unta yang mengangkat gandum, minyak dan kismis.  Unta-unta itu kemudian berhenti di depan rumah Usman bin Affan, lalu kafilah-kafilah itu menurunkan muatannya.  Tak lama kemudian para pedagang (tengkulak) datang menemui Usman dengan maksud ingin membeli barang-barang tersebut.
Lalu Usman bin Affan berkata kepada mereka, “Dengan segala senang hati, berapa banyak keuntungan yang akan kalian berikan kepadaku..?” Mereka menjawab, “Dengan dua kali lipat.” Usman menjawab, “Waduh sayang..! Sudah ada penawaran yang lebih tinggi dari kalian.”
Para pedagang itu kemudian menaikkan tawarannya empat sampai lima kali lipat, tetapi Usman bin Affan tetap menolak dengan alasan sudah ada penawar yang akan menawar lebih tinggi lagi dari penawaran para pedagang tersebut.
Akhirnya para pedagang (tengkulak) semuanya menjadi penasaran, lalu berkata lagi kepada Usman, “Hai Usman, di Madinah ini tidak ada pedagang selain kami, dan tidak ada yang mendahului kami dalam penawaran, siapa orang yang berani menawar lebih tinggi dari kami..?” Akhirnya Usman menjawab, “Allah SWT memberikan kepadaku sepuluh kali lipat, apakah kalian mau memberi lebih dari itu..?”
Mereka serempak mejawab, “Tidak..!” Usman berkata lagi, “Aku menjadikan Allah sebagai saksi bahwa seluruh yang dibawa kafilah itu adalah menjadi sedekah untuk para fakir miskin dari kaum Muslimin secara gratis.
Maka pada sore hari itu juga Usman bin Affan r.a. membagi-bagikan seluruh makanan yang dibawa oleh kafilah tadi kepada fakir miskin.  Mereka semuanya mendapat bagian yang cukup untuk kebutuhan keluarganya masing-masing dalam jangka waktu yang lama.
Itulah sebagian dari kedermawanan Usman bin Affan r.a.  Selanjutnya mengenai kepribadian dalam perjalanan hidupnya, Usman bin Affan adalah seorang yang bertakwa, selalu bersikap wara’, di tengah keheningan malam dia selalu mengkaji Al-Qur’an dan setiap tahunnya dia menunaikan ibadah haji.  Apabila ia berzikir, maka dari matanya mengalir air mata haru.  Ia selalu bersegera dalam segala amal kebajikan dan kepentingan umat. (referensi : kisahkisahislami.blogspot.com)

Silakan juga simak film Usman bin Affan dibawah ini :

1. Usman sebagai utusan Rasulullah di Hudaibiyah

2. Sumur yang dibeli Usman

3. Terpilihnya Khalifah Umar

Istilah :
khalifah = pemimpin umar (prediden)