5 Pesan Untuk Meninggalkan Maksiat

Tuesday, October 1st 2013. | Artikel, Artikel Remaja

5-Pesan-Untuk-Meninggalkan-MaksiatSaya mendapatkan cerita ini dari media online, belum jelas apakah hanya cerita atau kejadian nyata. Namun jika dilihat dari pesan yang ada, cerita ini cukup baik. Judul yang biasa digunakan untuk menulis cerita ini adalah “5 syarat melakukan maksiat”. Nama sengaja saya ganti biar gampang dipahami.

Pada suatu hari, Ali didatangi seorang lelaki yang gemar melakukan maksiat. Lelaki tersebut bernama Jahal. Ia meminta nasehat kepada dirinya agar ia dapat menghentikan perbuatan maksiatnya. Ia berkata, “Wahai Ali, aku ini seorang yang suka melakukan perbuatan maksiat. Tolong berikan aku cara yang ampuh untuk menghentikannya.”

Setelah merenung sejenah, Ali berkata, “jika kau mampu melaksanakan lima syarat yang kuajukan, maka aku tidak keberatan kau berbuat dosa.”

Tentu saja dengan penuh rasa ingin tahu yang besar, Jahal beratanya, “apa saja syarat-syarat ini, Wahai Ali?”

Ali : “Syarat pertama, jika kau melaksanakan perbuatan maksiat, maka janganlah kau memakan rizki Allah”

Jahal : Lalu aku makan dari mana? Bukankah segala sesuatu yang berada di bumi ini adalah rizki Allah?”

Ali : “Benar”, “Bila kau telah mengetahuinya, masih pantaskah kau memakan rizki-Nya sementara kau terus melakukan maksiat dan melanggar perintah-perintah-Nya?”

Jahal: “Baiklah…”, kemudian apa syarat yang kedua?”

Ali : “kalau kau bermaksiat kepada Allah, janganlah kau tinggal di bumi-Nya”, kata Ali lebih tegas lagi.
Syarat kedua ini membuat Jahal lebih kaget lagi.

Jahal : “Lalu aku harus tinggal di mana? Bukankah bumi dengan segala isinya ini milik Allah?”

Ali: “Benar Jahal. Karena itu pikirkanlah baik-baik. Apakah kau masih pantas memakan rizki-Nya dan tinggal di bumi-Nya sementara kau terus berbuat maksiat?”

Jahal: “Kau benar Ali, Lalu apa syarat ketiga?”

Ali: “Kalau kau masih juga bermaksiat kepada Allah tetapi masih ingin memakan rizki-Nya dan tinggal di bumi-Nya, maka carilah tempat yang tersembunyi agar tidak terlihat oleh-Nya.”

Syarat ini membuat lelaki itu terkesima.
Jahal: “Wahai Ali, Mana mungkin Allah tidak melihat kita?”

Ali : “Bagus! Kalau kau yakin Allah selalu melihat kita, tetapi kau masih terus memakan rizki-Nya, tinggal di buminya, dan terus melakukan maksiat kepada-Nya. Pantaskah kau melakukan semua itu?”,

Jahal : “Baiklah Ali, lalu katakana apa syarat yang keempat?”

Ali : “Jika malaikat maut hendak mencabut nyawamu, katakanlah kepadanya bahwa engkau belum siap mati sebelum bertaubat dan melakukan amal shaleh.”

Jahal : “tidak mungkin…tidak mungkin semua itu aki lakukan.”

Ali : “Wahai Jahal, bila kau tidak sanggup menunda kematianmu, Bagaimaka kamu menghindari murka Allah?”

Tanpa banyak komentar lagi, ia bertanya sayarat yang kelima.

Ali : “Yang terakhir, bila malaikat Zabaniyah hendak menggiringmu ke neraka di hari kiamat, janganlah kau bersedia ikut dengannya dan menjauhlah!”

Lelaki yang ada dihadapan Ali itu tampaknya menyadari perbuatannya, Ia menangis penuh penyesalan. lalu ia berkata “cukup Wahai Ali! Aku berjanji, mulai saat ini aku akan beristighfar dan bertaubat kepada Allah.”

Lelaki itu memang menepati janjinya. Sejak pertemuannya dengan Ali, ia benar-benar berubah. Ia mulai menjalankan ibadah dan semua perintah-perintah Allah dengan baik.